Breaking News

Dorong Mahasiswa Jadi ‘Indigenouspreneur’, UPA Kewirausahaan UNCEN Gelar ECO FEST 4

Unit Pelaksana Akademik (UPA) Kewirausahaan Universitas Cenderawasih (UNCEN) sukses menggelar ECO FEST 4 (Entrepreneurship Collaboration Festival) di Jayapura pada Selasa (8/9/2026). Ajang ini menjadi wadah nyata untuk melatih kreativitas mahasiswa sekaligus memperkuat kolaborasi kewirausahaan interkultural yang berpihak pada masyarakat adat.
Ukuran Teks

JAYAPURA– Unit Pelaksana Akademik (UPA) Kewirausahaan Universitas Cenderawasih (UNCEN) sukses menggelar ECO FEST 4 (Entrepreneurship Collaboration Festival) di Jayapura pada Selasa (8/9/2026). Ajang ini menjadi wadah nyata untuk melatih kreativitas mahasiswa sekaligus memperkuat kolaborasi kewirausahaan interkultural yang berpihak pada masyarakat adat.

Festival tahun ini diikuti oleh sekitar 50 tim kewirausahaan mahasiswa, alumni program SUPER, LEKAT Papua, serta Badan Usaha Milik Masyarakat Adat PT Yombe Namblong Nggua. Acara puncak ini juga diramaikan dengan agenda book fair serta job fair.

Sinergi Modernisasi Mahasiswa dan Pangan Lokal

Mengusung tema “BUMI KITA”, ECO FEST 4 mendorong mahasiswa tidak sekadar menciptakan produk baru, tetapi juga jeli menggali potensi lokal dan pengetahuan tradisional. Salah satu produk unik yang menarik perhatian dalam festival ini adalah makanan khas gedi gulung atau swotpun yang disosialisasikan oleh PT Yombe Namblong Nggua.

Baca juga: Sekda Keerom Lepas Mahasiswa KKN Uncen di Sejumlah Kampung

Kehadiran produk pangan lokal tersebut membuktikan bahwa kekayaan budaya Papua memiliki nilai ekonomi tinggi tanpa harus mencoreng identitas dan nilai-nilai luhur masyarakat adat.

Inovasi Paving Block dari Sampah

Selain produk kuliner berbasis adat, para mahasiswa UNCEN juga menunjukkan taji di bidang inovasi lingkungan. Salah satu kreasi menonjol yang dipamerkan adalah produk paving block yang memanfaatkan bahan dasar limbah atau sampah.

Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Dr. Ferdinand Risamasu, yang membuka acara secara resmi menyampaikan apresiasi tinggi atas pergeseran cara berpikir mahasiswa dalam melihat peluang bisnis.

Baca juga: 32 Mahasiswa Uncen Dibekali Menulis Feature Dalam Program RUMAHKU

“Produk yang dihasilkan mahasiswa tahun ini cukup unik dan menarik karena tidak hanya kuliner, tetapi juga produk kreasi dari limbah atau sampah seperti paving block dan lainnya,” ujar Dr. Ferdinand. Menurutnya, kewirausahaan kini telah berkembang menjadi proses menciptakan solusi dan memberi nilai tambah pada lingkungan sekitar.

Melahirkan Generasi ‘Indigenouspreneur’

Ketua Penyelenggara ECO FEST 4, Kurniawan Patma, menjelaskan bahwa rangkaian festival ini sudah berjalan panjang melalui seleksi proposal, pelatihan SUPER Batch 5, hingga tahap Demo Day. Skema ini dibentuk agar mahasiswa memiliki bekal nyata dari menyusun model bisnis hingga melempar produk ke pasar.

“Kita kembali mencoba mengkolaborasikan antara kewirausahaan mahasiswa dan adat, book fair, serta job fair,” kata Kurniawan.

Melalui gagasan indigenous entrepreneurship, UPA Kewirausahaan UNCEN berharap lulusannya kelak tidak hanya bermental entrepreneur biasa, melainkan tumbuh menjadi indigenouspreneur. Yaitu wirausahawan muda mandiri yang berdaya saing tinggi, namun tetap berpijak pada kelestarian budaya, lingkungan, serta berpihak penuh pada kemajuan masyarakat adat Papua. (*)

Baca juga: Seminar Kajian Etnografi, Implementasi Pembangunan Berbasis Kearifan Lokal

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.