Breaking News

Menyusuri Derasnya Arus Sungai Sofker, Bupati Gusbager Ungkap Mirisnya Kondisi Kampung Onam

Ukuran Teks

Timurnewsupdate.Com-KEEROM // Bupati Kabupaten Keerom Piter Gusbager menemukan kondisi memprihatinkan saat mengunjungi Kampung Onam, salah satu kampung perbatasan yang berada persis di pinggiran Sungai Sofker, kampung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pengunungan Bintang, Papua Pegunungan, pada Selasa (8/9/2026).

Perjalanan menuju Kampung Onam bukanlah perjalanan mudah. Setelah mengunjungi Kampung Kiambra, Bupati Gusbager melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Sofker menggunakan perahu kayu kecil bermotor jonson yang memakan waktu lebih tiga jam.

Sementara itu, dari Muara Nawa perjalanan menuju kampung tersebut ditempuh sekitar tujuh jam dengan melintasi sungai. Setibanya di lokasi, Bupati terpaku mendapati tidak adanya aktifitas sekolah, guru, Pustu, akses jalan, penerangan, dan fasilitas pelayanan publik lainnya.

“Kondisi Kampung Onam sangat memprihatinkan. Tidak ada sekolah, tidak ada guru, anak-anak tidak pernah sekolah. Ini kondisi yang harus segera kita benahi,” kata Bupati Gusbager.

Melihat kondisi tersebut, orang no.1 Keerom itu langsung mengambil langkah kongkrit. Ia menginstruksikan akan segera membangun sekolah tahap awal dengan tiga ruang kelas beserta tenaga guru, agar kegiatan belajar mengajar segera berjalan.

“Minggu depan kita akan kirim guru duluan agar proses belajar mengajar mulai berjalan dan akan memberikan bantuan seragam sekolah bagi anak-anak,” ujarnya.

Selain itu, Bupati juga meminta masyarakat mempertimbangkan pemindahan pemukiman sekitar 100 meter ke arah daratan karena posisi kampung yang berada tepat di tepi Sungai Sofker berpotensi terancam abrasi.

Bupati mengaku prihatin atas kondisi Kampung Onam yang selama ini tidak pernah dilaporkan secara langsung oleh pemerintah kampung, distrik, maupun dinas terkait, dan mengetahui berbagai persoalan yang ada setelah turun langsung menemui masyarakat.

Selaku kepala daerah, dirinya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat, sebab sekian lama Kampung Onam berdiri tetapi akses pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik lainnya belum berjalan sesuai harapan.

“Kita akan segera membangun apa yang belum dibangun dan memperbaiki apa yang harus diperbaiki,” ungkapnya.

Diketahui, umumnya masyarakat adat Kampung Onam berasal dari suku Yetfa dan Yelago yang selama ini hidup dengan berkebun, berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makanan pokok utama masyarakat berupa sagu, singkong, pisang, petatas, jagung, ikan dan daging hasil buruan. (@mr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.