JAYAPURA – Universitas Cenderawasih (Uncen) kembali menghadirkan terobosan dalam pengembangan pendidikan tinggi yang berakar pada kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan. Melalui Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Uncen memperkenalkan inisiatif pembukaan Konsentrasi Akuntansi Lingkungan Masyarakat Adat, sebuah konsentrasi pendidikan yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia.
Inisiatif tersebut menjadi salah satu agenda strategis dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Ekosistem Pendidikan Tinggi bagi Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA)” yang diselenggarakan pada Senin, 12 Oktober 2026, bertempat di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Kegiatan ini dilaksanakan bersama Mitra BUMMA sebagai tindak lanjut konkret dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang telah ditandatangani sebelumnya. Kolaborasi tersebut menandai komitmen bersama untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat adat, sekaligus memperkuat kapasitas pengelolaan ekonomi, sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan di Tanah Papua.
Dari Penandatanganan Kerja Sama Menuju Aksi Nyata
FGD dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, Dr. Otniel Safkaur, S.E., M.Si.
Dalam arahannya, Dekan FEB menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk aktualisasi cepat atas Perjanjian Kerja Sama yang telah disepakati.
Menurutnya, kerja sama perguruan tinggi dengan mitra strategis tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen, melainkan harus segera diwujudkan dalam program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pelaksanaan FGD ini sekaligus memperlihatkan keseriusan FEB Uncen dalam menerjemahkan komitmen kelembagaan menjadi langkah operasional, khususnya dalam pengembangan pendidikan yang responsif terhadap karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan masyarakat adat Papua.
Merancang Ekosistem Pendidikan yang Kontekstual dan Berbasis Kebutuhan Mitra
Ketua Jurusan Akuntansi FEB Uncen, Dr. Alfiana Antoh, menjelaskan bahwa FGD menjadi ruang dialog strategis untuk memperoleh masukan langsung dari para mitra, khususnya terkait kebutuhan kompetensi, tantangan pengelolaan usaha, dan karakteristik kelembagaan ekonomi masyarakat adat.
Ia menekankan bahwa desain ekosistem pendidikan tidak dapat dibangun hanya berdasarkan perspektif akademik, tetapi harus dikembangkan secara partisipatif dengan melibatkan pihak-pihak yang memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat adat.
Dengan demikian, kurikulum, pendekatan pembelajaran, serta bentuk kolaborasi yang dikembangkan diharapkan benar-benar kontekstual, aplikatif, dan mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.
Akuntansi Lingkungan Masyarakat Adat: Inovasi Pendidikan Tinggi dari Tanah Papua
Salah satu agenda utama FGD adalah pemaparan rancangan akademik oleh Ketua Program Studi Akuntansi FEB Uncen, Cornelia D. Matani.
Dalam presentasinya, Cornelia menjelaskan peta kurikulum, pendekatan dan metode pembelajaran, serta arah pengembangan program akademik yang mengintegrasikan ilmu akuntansi dengan realitas sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan masyarakat adat.
Pemaparan tersebut mencapai momentum penting ketika diperkenalkan rencana pembukaan konsentrasi khas Akuntansi Lingkungan Masyarakat Adat, yang diproyeksikan menjadi salah satu inovasi akademik perintis di Indonesia.
Konsentrasi ini diarahkan untuk memperluas perspektif pendidikan akuntansi, tidak hanya pada pencatatan dan pelaporan keuangan, tetapi juga pada pemahaman tanggung jawab lingkungan, keberlanjutan usaha, nilai-nilai adat, dan tata kelola ekonomi berbasis komunitas.
Melalui pendekatan tersebut, pendidikan akuntansi diharapkan mampu menjembatani standar keilmuan modern dengan pengetahuan lokal masyarakat adat, sekaligus mendukung pengembangan BUMMA sebagai kelembagaan ekonomi yang profesional tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai kulturalnya.
Inovasi ini juga membawa pesan penting bahwa Tanah Papua bukan hanya menjadi tempat penerapan ilmu pengetahuan, tetapi dapat menjadi sumber lahirnya gagasan, pendekatan, dan model pendidikan tinggi yang berkontribusi bagi pengembangan keilmuan di tingkat nasional.
Indigenouspreneurship: Mempertemukan Pendidikan, Kewirausahaan, dan Identitas Masyarakat Adat
Koordinator sekaligus penanggung jawab program, Kurniawan Patma, menegaskan bahwa pengembangan ekosistem pendidikan tinggi bersama BUMMA merupakan wujud nyata dari konsep Indigenouspreneurship, yaitu pengembangan kewirausahaan yang bertumpu pada identitas, pengetahuan, potensi, serta nilai-nilai masyarakat adat.
Menurutnya, pendidikan tinggi perlu mengambil peran strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat adat melalui pengembangan kompetensi, inovasi, dan tata kelola usaha yang berkelanjutan.
Dalam kerangka tersebut, kolaborasi antara perguruan tinggi dan BUMMA diharapkan dapat mempertemukan kekuatan akademik dengan pengalaman serta pengetahuan masyarakat adat. Sinergi ini menjadi landasan untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga bertumbuh melalui praktik dan pengalaman nyata di lingkungan masyarakat.
Mitra BUMMA Sambut Positif Terobosan Uncen
Dari pihak mitra, Roki Aloysius, perwakilan Mitra BUMMA, menyampaikan apresiasi terhadap langkah progresif yang dilakukan oleh Program Studi Akuntansi Universitas Cenderawasih.
Ia menilai bahwa inisiatif pengembangan ekosistem pendidikan tinggi yang melibatkan BUMMA merupakan langkah yang sangat baik dan memiliki prospek positif ke depan.
Keterlibatan mitra sejak tahap perancangan dinilai penting agar program yang dihasilkan tidak hanya memiliki kekuatan konseptual, tetapi juga dapat diterapkan sesuai kebutuhan kelembagaan usaha masyarakat adat.
Dukungan tersebut memperlihatkan adanya kesamaan visi antara perguruan tinggi dan mitra dalam mendorong lahirnya sumber daya manusia yang kompeten, berdaya saing, dan tetap berakar pada identitas masyarakat adat.
Dari Papua untuk Transformasi Pendidikan Tinggi Indonesia
FGD ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Program Studi Akuntansi FEB Universitas Cenderawasih untuk mengembangkan model pendidikan tinggi yang inklusif, kontekstual, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Melalui pengembangan Konsentrasi Akuntansi Lingkungan Masyarakat Adat dan penguatan ekosistem pendidikan bersama BUMMA, Universitas Cenderawasih menunjukkan arah baru pendidikan akuntansi yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat adat.
Langkah ini diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi profesional di bidang akuntansi, tetapi juga generasi yang mampu memahami, menjaga, dan mengembangkan kekayaan sosial, budaya, ekonomi, dan ekologis masyarakat adat secara bertanggung jawab.
Dari Tanah Papua, Universitas Cenderawasih terus mendorong lahirnya inovasi pendidikan tinggi yang tidak sekadar menjawab kebutuhan dunia kerja, tetapi juga memperkuat kedaulatan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan masa depan masyarakat adat Indonesia. (Fredik)


